Senin, 22 Agustus 2011

Ceritaku Pada Suatu Siang

Seperti biasa, setiap pulang kerja, aku menunggu oplet yang akan membawaku pulang dari tempatku mengais makan setiap hari menuju rumah kontrakanku. Dan sudah sangat biasa juga oplet yang ku tunggu, ku tunggu, ku tunggu, lama sekali tak kunjung lewat. Kali ini sudah nyaris setengah jam. Tentu saja kesabaranku pun luruh sedikit demi sedikit.

Menoleh kanan kiri pemandangan cuma itu-itu saja, pinggiran kali yang dipenuhi sampan nelayan. "Mereka sama susahnya denganku," pikirku.Mungkin aku justru lebih beruntung dari mereka. Aku tidak perlu berpanas-panas ria saat bekerja, kecuali saat pulang seperti ini.

Memang benar, kota ini panas sekali (daerah pesisir pantai, maklumlah). Siang ini aku kepanasan duduk di bawah pohon waru yang daunnya tidak banyak. Setelah setengah jam lelah berdiri, aku memutuskan untuk duduk di bangku-bangku bambu yang biasanya digunakan untuk para pelanggan warung pinggiran jalan yang siang itu sedang tutup.

Sebuah mobil mewah melintas di depanku. Cat mobil itu benar-benar kinclong mengkilat, sekinclong cewek yang mengendarainya. Woww.. Keren! Seandainya aku anak orang kaya dan punya mobil, aku pasti tidak perlu panas-panasan seperti ini. Saat hujan pun tidak basah. Hmmm... pasti aku juga tak sehitam manis sekarang. HoHoHo! Tapi, itu kalau aku orang kaya...

Tak berselang lama setelah khayalanku kandas, sebuah motorpun melintas. Oh, mungkin mobil terlalu jauh. Motor seperti tadi sepertinya cukup menyenangkan. Aku mungkin lebih mudah kemana-mana dengan kendaraan roda dua itu. Walaupun agak panas juga tetapi lebih cepat. Punya motor berarti belinya pakai uang? Kebutuhan yang lain yang harus diprioritaskan masih lebih banyak. Hoaaammm... Ngantuk mikirnya! Duit lagi, duit lagi.

Lupakan robot-robot mesin itu!

Seorang wanita separuh baya lebih, yang mungkin sudah bercucu, mengayuh sepeda tampak dari arah barat ujung jalan. Aku pengen sepedaaaaaaaaa.... Malang sekali nasibku, sepeda saja masa iya aku tak punya.
Aku berhenti tersenyum ketika mataku melayang ke seberang jalan. Seorang gadis, mungkin seusia denganku, berjalan dengan dua buah kruk di bawah lengannya untuk menyangga tubuhnya. Kaki kirinya tak tampak, kaki kanannya pun tampak kepayahan menopang seluruh berat badannya. Ya, Tuhan. Alangkah tidak bersyukurnya aku selama ini. Aku memiliki tubuh yang lengkap, kedua kakiku pun sehat dan berfungsi dengan baik. Aku bisa berjalan, bahkan berlari.  Aku bisa melakukan banyak hal hanya dengan kakiku. Yang ku miliki dariMu ini sudah lebih dari segalanya Tuhan.

Terimakasih... 

(^ . ^)

Minggu, 06 Maret 2011

Bergelut dengan benang memang bikin pusing, apalagi kalau disebut "benang ruwet".
Tapi tidak semua "benang ruwet" itu memusingkan loh..
(Percaya ga percaya)
Belakangan ini saya sedang "Jatuh Cinta" dengan yang namanya benang. sangat menyenangkan dan benar-benar membuat saya terlena, apalagi meruwet-ruwetkan benang. Bagian itulah yang sangat saya minati, rasanya dia memberikan tantangan dengan tusukan-tusukan dan metode-metode putaran baru yang membuat saya semakin penasaran untuk mencobanya. yah, memang saya masih belajar "merenda".
Terimakasih buat Kak NOvi dan Kak Yanti yang sudah memperkenalkan merenda dan merajut kepada saya. "Sekarang aku dah bisa bikin pin baju aneka binatang, bikin kardigan, bikin boneka kura2 untuk gantungan kunci dan lain2..."
Rupanya ketertaikan saya terhadap benang ini menular kepada Si Ijonk, one of my beloved fren, dia tiba-tiba minta diajari menyulam kristik. Proyek pertamanya adalah DORAEMON, ya gambar robot kucing itu akan menjadi karya permamanya. Dengar-dengar gosip neh, sebentar lagi pujaan hatinya akan berulang tahun dan dia akan menghadiahkan hasil hastakaryanya sendiri, handmade, karyanyo surang (cieh, cieh..) It is so sweet beb... Originally by yourself for your heart.
Si Agy juga tertarik dengan merenda, tapi sepertinya terhenti pada tusuk rantai. Kenapa????

Yang jelas dan pastinya, jauhkan segala anggapan bahwa bergelut dengan benang itu rumit. Yang ruwet itu bisa menjadi sesuatu yang indah..