Selasa, 24 Agustus 2010

Yah Namanya Juga Hidup

Hidup kita sebagai manusia memang selalu ironis. Kalimat ini sering kali terdengar dari orang-orang yang kenyataannya jauh dari angannya. Pernyataan ‘selalu’ sebenarnya mungkin hanya tepat untuk sebagian orang saja. Disebut ‘mungkin’ karena hal ini relatif. Untuk beberapa orang yag lebih beruntung pernyataan itu tentu saja tidak berlaku.
Ironi adalah suatu keadaan dimana apa yang dikatakan atau diharapkan oleh seseorang (kelompok) tidak sesuai dengan keaadaan nyata (sebenarnya). Dengan kata lain yang terjadi bertentangan dengan apa yang diharapkan. Baik ketika apa yang benar-benar kita harapkan tidak terjadi ataupun ketika apa yang tidak kita harapkan justru datang pada kita, keduanya sama-sama tidak mengenakkan bahkan kadang kala membuat kita kecewa dan sakit hati.
Urusan hati paling rentan dengan hal ini bisa dijadikan contoh yang menarik. Acap kali ketika seseorang benar-benar mencintai atau menyayangi seseorang yang lain tetapi seseorang lain yang dimaksud hanya menyukainya setengah hati (hanya berpura-pura bahkan memanfaatkan/mempermainkan saja) atau bahkan tak menyukainya sama sekali dan justru mengharapkan orang yang lainnya lagi yang tak memiliki perasaan yang sama dengannya.
Orang yang tak memiliki kesempatan untuk dicintai begitu tulus seperti cinta ‘seseorang’ kepada ‘seseorang yang lain’ tersebut akan mengatakan betapa tidak bersyukurnya ‘seseorang yang lain’ itu. Tak banyak orang yang dianugerahi cinta yang begitu berkelimpahan dalam hidupnya seperti halnya dirinya, namun disia-siakan begitu saja. Akan tetapi bagi yang berada dipihak ‘seseorang yang lain’ akan mengatakan bahwa itu perasaan dia dan perasaan (cinta) tidak bisa dipaksakan. Kemungkinan besar bahkan akan mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan orang kepadanya kepada ‘orang yang lainnya lagi’. Dan tentunya ‘orang yang lainnya lagi’ itu juga memiliki hak yang sama tentang perasaan, untuk tidak menyukainya.

Siapa yang salah?
Semua kembali kepada nurani masing-masing. Belajar berbesar hati untuk menerima kenyataan sepertinya adalah jalan terbaik untuk semua ini. Belajar untuk sedikit membuka hati (seperti lagu Armada Band) untuk orang yang berusaha mengerti dan menjadi teman kita menjalani hidup yang serba ironis ini. Mungkin dia bukan yang terbaik menurut hati kita, tak sempurna. Akan tetapi apakah kita tahu yang terbaik untuk kita menurut Tuhan? Tak usah jauh-jauh kesana, kembalikan pada diri kita, apakah kita ini sudah baik? Apakah kita sempurna?
Bersyukur juga hal yang perlu kita tanamkan dalam hidup kita. Apapun yang kita dapat cobalah untuk menerima dengan hati tulus. Mungkin saat ini kita belum beruntung, tetapi liahtlah ke luar, lebih banyak yang tingkat keberuntungannya jauh di bawah kita. Barangkali apa yang menjadi harapan kita tidak segera terkabul (bahkan tidak sama sekali), belajarlah untuk bersabar. Bukan Tuhan tak sayang kepada kita, tetapi kita diberi kesempatan untuk belajar ataupun berusaha lagi. Itu semua demi kebaikan kita juga. Tentu saja bersyukur ini juga kita wujudkan dengan tidak menyia-nyiakan apa yang kita miliki, juga kesempatan yang datang pada kita.
Hal yang perlu selalu kita ingat, jangan mengkambinghitamkan hidup. Ironis atau tidaknya tergantung dari mana kita memandangnya. Bersabar, berbesar hati, berusaha dan bersyukur akan mengobati kekecewaan yang mungkin sempat membuat kita terjatuh. Saat itu janganlah menyerah, akan selalu ada tangan terulur untuk membantumu berdiri tegar menentang kenyataan dengan seribu harapan.

Terimakasih untuk sepotong kata-kata indah yang diperuntuk bagi saya hari ini. It really motivates me to be strong!

Tuhan punya hadiah untukmu
Sebuah Cahaya untuk kegelapan
Sebuah rencana untuk hari esok
Sebuah jalan keluar untuk masalah
Sebuah kebahagiaan untuk kesedihan.
Dan aku punya hadiah untuk kamu hari ini
Sebuah doa dan harapan agar Yesus selalu menyertai setiap langkahmu
Tuhan menyertaimu...

Selasa, 17 Agustus 2010

Dongeng Sebelum Tidur


Tokoh utama mungkin dapat didefinisikan sebagai tokoh yang paling tinggi intensitas kemunculannya dalam sebuah cerita, selain itu juga tokoh utama adalah yang menjadi pusat perhatian dan sumber cerita, tokoh utama ini yang memiliki konflik dalam cerita.
Begitulah kami sebagai tokoh utama. Kami adalah tokoh-tokoh yang akan menyampah dalam cerita ini nantinya, kami juga yang akan menjadi pusat cerita dan kami pulalah yang berkonflik dengan tokoh-tokoh dalam cerita ini. Tapi karena Aku sebagai narator cerita, mungkin akan agak lebih mendominasi.
Hidupku sebagai seorang mahasiswa benar-benar biasa saja. Tak ada yang khusus atau ‘wah’ seperti yang selama masa anak-anak aku bayangkan. Jangankan indeks prestasi empat, tiga koma sedikit saja susah payah aku dapat. Gadis cantik, dewasa, anggun dan modis, seperti mahasiswi di sinetron-sinetron yang membawa iklan berbagai produk kecantikan mulai pemutih sampai pewarna wajah atau dari pelangsing sampai pembesar ‘anu’, tak pernah singgah dihidupku selama empat tahun menyandang profesi itu. Aktif dalam berbagai kegiatan seperti yang acapkali menjadi salah satu trend berita di pertelevisian Indonesia juga hanya mimpi indah masa pra-mahasiswaku.
Bukan sebuah penyesalan, anggap saja yang itu sebagai sepotong cerita hambar dalam hidupku, karena aku sadar semua ini juga berawal dan berpokok dari diriku sendiri. Salahku sendiri, begitulah tepatnya. Memilih jurusan pada waktu seleksi saja aku sudah ngawur, jauh dari pertimbangan matang. Euforia lulus Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru menempati hampir setengah isi otakku empat tahun yang lalu.
Aku anak kos sama seperti mereka. Mereka adalah Roro, Lulu, Nono, Titi dan Teten. Kosan kami bisa digambarkan dengan sangat mudah sekali karena kos kami itu kecil, sempit dan tak ada isinya, isi yang dimaksud antara lain TV, tape, radio, lemari baju, 1 set meja belajar; lengkap dengan lampu belajar, frame foto bersama orang-orang terkasih, jam weker, dll., rak-rak dan segala pernak-pernik yang biasanya tak pernah absen di kamar kos cewek. Jadi, gambaran kos kami adalah bangunan kecil ‘nyempil’ di atas garasi mobil ibu kos berdinding krem dan beratap merah.
Harta kami hanya kasur (masing-masing personel punya) beserta atribut tidur, satu buah rice cooker, satu buah dispenser dan satu buah setrikaan. Pokoknya tak ada untungnya kalau beniat merampok kami.
Meskipun aku dan teman-temanku ini biasa-biasa saja, kami selalu berusaha membuat hari-hari kami menjadi agak luar biasa. Penuh semangat dan selalu tersenyum selalu menjadi pendukung doa pagi kami. Namun, senyum manis kami akan memudar setiap mendekati tanggal 17. Kenapa? Karena itu jadwal kami menunaikan kewajiban kami, yaitu membayar uang bulanan kos kami.
Harusnya memang tak begitu, tak perlulah kami bermuram durjana. Tapi tak taulah, kami hanya manusia biasa sebagaimana orang-orang kebanyakan dan orang-orang tidak kebanyakan yang sangat bersenang hati menerima hak dan lebih bersenang hati jika kewajibannya diminimalisir, kalau bisa seminim-minimnya. Alam terkembang jadi guru, itulah pepatah yang cukup dibanggakan di nagari kami merantau menuntut ‘gaji buta’, niatnya menuntut ilmu sebenarnya. Kami sebagai pelajar pun belajar dari alam juga, sayangnya alam negeri kita makin memburuk sepertinya.
Begitulah, ritual tanggal 17 malam meskipun agak berat tetap kami laksanakan. Kami punya anggota tubuh yang lengkap (otak, hati; red) koq. Dengan senyum manis tiada tara kami berenam menyatroni kediaman ibu kos kami nan mewah tepat di belakang sarang kecil kami.
“Buk…,” hanya dengan sapaan pendek itu sang ibu sudah paham maksud kedatangan kami. Beliau langsung mengeluarkan sebuah buku biru khusus dan spesial serta sebuah pena.
“Tulislah di sini No, sekalian tandatangannya ya…,” begitu biasanya komando ibu kepada Nono sang ketua rombongan. Kami yang lain fungsinya sebagai pasukan bodrek, biasanya kami menyebut diri “serdadu belalang tempur”, yang akan mengaminkan nasehat, petuah, pesan dan kesan ibu kami untuk bulan itu dan kedepannya.
Setelah urusan selesai tak lupa kami berpamitan dan kembali ke sarang untuk melanjutkan sedikit pekerjaan kami atau pun mimpi yang belum terwujud. Seperti suatu malam gerimis setelah sekitar 4 jam pasca ritual tanggal 17, sekitar pukul 23.30. Percakapan menjelang tidur kami dalam selimut kira-kira seperti ini:
Aku: “Eh, gosip apa ya yang paling up date sekarang ini?”
Roro: “Gosip kisah cintaku. Haha..” (Ngakak sambil setengah merem)
Lulu: “Harga bahan pokok yang naik-naik kepuncak gunung menjelang bulan puasa, kak.”
Aku: “Memang berapa harga minyak goreng sekarang? Wah, kalau harga minyak goreng naik harga sawit juga naik dong.” (Tersenyum puas)
Titi: “Senang pula kau harga minyak goreng naik? Rakyat kecil macam kita makin sengsara tau.”
Aku: “Iya sih kak, tapi kalau harga sawit tetap, sedangkan harga sembako naik kan kasihan emak bapakku di kampung.”
Nono: “Memangnya berapa sih harga minyak sekilo sekarang?”
Aku, Roro dan Titi menggedikkan bahu.
Lulu: “Kita nggak punya TV sih, jadi selalu ketinggalan berita.”
Aku: “Eh, TV ibu tadi gede ya? Segede jendela kamar kita. Kapan ya kita punya TV sebesar itu?”
Roro: “Langkahi dulu mayatku kak!”
(Bummm… Boneka beruangku mendarat tepat di mukanya.)
Roro: “Habisnya, kakak sih ngayal tinggi-tinggi. TV yang segede buku tulis aja nggak kebeli sama kita, mau yang segede layar tancap??? Mimpi dulu yuk…”
Aku: “Kalau saja aku kaya ya. Hmmm… Pasti ku belikan TV buat kalian.”
Titi: “Untung kau nggak kaya.”
Aku: “Memangnya kenapa?”
Titi: “Kalau kau kaya kau nggak akan mau temenan sama kami, nggak bakalan mau tinggal di sini dan yang jelas kami cuma berlima sehingga oleh karena itu tentunya uang kos kita akan lebih mahal karena harus ditanggung lima kepala saja.”
Aku: “Aku kan kalau kaya termasuk orang kaya yang tidak sombong kak.”
Nono: “Mana ada tu? Orang kaya rendah hati sekarang ini hanya tinggal teori di dalam buku teks PKn, Pancasila, agama dan budi pekerti saja. Bulshitologi belaka.”
Teten: “Bulshitologi itu apa kak?”
Roro: “Lontong sayur Ten, enak…”
Kompak kami tertawa, kecuali Teten tentu saja. Dia hanya terbengong.
Lulu: “Jadi orang kaya mah nggak enak kak.”
Aku: “Kok begitu?”
Lulu: “Iya lah, bakal susah tidur memikirkan hartanya. Takut digondol maling lah, mikir di mana harus menyimpannya lah, mikir pula gimana cara menghabiskannya. Bisa-bisa malah jadi takut mati juga nantinya, ya karena nggak tega meninggalkan hartanya di bumi.”
Teten: “Betul kak, kalau kita mati nanti harta kan nggak bakal di bawa-bawa.”
Roro: “Ya jelas lah Ten, kasihan juga yang mengangkat jenazahnya, keberatan kalau harus ditambah TV, kulkas, brankas daaaan lain-lain sebagainya.”
Nono: “Yang jelas, kaya harta itu tidak enak. Tak ada gunanya. Bagusan juga kita sederhana tapi kaya hati, hidup damai tentram tanpa dibutakan, diributkan atau meributkan masalah uang.”
Percakapan kami yang telah berubah genre religius terhentikan oleh ketokan tak sabar di pintu masuk lorong kamar kami.
Suara tak tampak wujud: “Kak,kak… buka pintu kak. Kak….”
Aku yang paling dekat ke pintu bangkit mengambil kunci yang tergantung di dekat jam dinding. Roro, Nono, Titi, dan Lulu mengekor di belakangku. Teten bergeming di balik selimutnya.
Pintu terus diketok-ketok.
Nono: “Sebentar ya..”
Suara tak tampak wujud: “Cepat kak, tolong mama.”
Ternyata oh ternyata, suara yang tak tampak wujud sebelumya itu adalah suara Memey anak sulung ibu kos kami. Dan begitu pintu terbuka,
Nono: “Kenapa dek?”
Memey langsung menarik tanganku yang posisinya paling depan, aku menarik tangan yang di belakangku dan seterusnya.
Memey: “Mama kak, mama” (terisak-isak) “Mama pingsan, sekarang sudah siuman tapi mama susah bicara dan bergerak kak. Barusan ada pencuri kak. TV, perhiasan mama semuanya dibawa.”
Sejenak langkahku terhenti, seperti ditampar. Aku menoleh kebelakang, kearah teman-temanku. Entahlah apa arti senyuman mereka, tapi hanya itu memang balasan tatapanku yang ku dapat.

NB: Buat Diver’s My Love


Senin, 02 Agustus 2010

Teman-temanku ya temanku..

Aku bukan siapa-siapa sebelum aku punya mereka. Yah, tapi jangan bilang aku anak durhaka yang tidak mengakui orangtua dan saudara-saudari sekandungku. Aku punya mereka jauh dari apapun. tentu saja! Nah, yang menjadi ceritaku sekarang ini adalah keberadaanku yang terasa lebih ada setelah aku punya teman-temanku.
Kampus Hijau yang awalnya terasa seperti tempat asing (maklumlah nyasar) mulai memberi warna lain setelah aku punya teman-teman gila seperti mereka. Bisa disebutkan koq namanya. Ada Nina si kecil mungil tapi "kuaaaatttt', Ida juga sama kecilnya dengan pembawaan yang 'cool', agry si bongsor nan cengeng, Ijonk nama laen dari "Faiza Mufidah" yang rada-rada "sableng". Yang laki-lakinya kami punya Bang Hand sang tetua yang tak bosan-bosannya membimbing, mengarahkan, dan memberi solusi kepada kami, statusnya jadi mirip-mirip penasehat negara kami atau bisa dikatakan juga "konsultan" segala bidang. Nah, yang terakhir tu Mang Ujang, (hehe..Panggilan sayang buat Fadil), sang fotografer (calon mungkin ya??) tapi dia selalu sibuk dengan jadwalnya jadi kami jarang lagi 'menggila' bersamanya.
Semua ini berawal entah kapan. Aku sendiri jujur saja tidak begitu ingat, semua mengalir begitu saja (anggap saja kali depan kosku gitu deh) dan semakin terasa saat kami seperjuangan mengerjakan proyek tugas akhir mata kuliah Drama II yang sebenarnya hanya 2 SKS namun tersa begitu mendera psikis, fisik, dan materi. yah... semua perjuangan dan usaha tidak ada yang sia-sia. Apa yang bisa kami berikan saat itu hanya "ala kadarnya", tapi hasilnya ternyata "alamaaakkkkk"...
Ini semua baru awal, banyak hal-hal gila yang ditingkahkan oleh teman-temanku itu. Lain waktu aku akan menulisnya. untuk saat ini cerita tentang memiliki mereka telah mengilhamiku tentang arti berteman. Aku merasa lebih ada. Aku tak sendiri...